Bengkulu (ANTARA Bengkulu) - Para perajin gula aren di Desa Air Meles, Kecamatan Kota Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, beralih menjual nira untuk bahan baku tuak.

"Kalau menjual gula aren masih melalui proses panjang, tetapi menjual air nira cukup mudah mendapatkan uang, karena permintaannya tinggi," kata seorang perajin gula aren, Srbaini, Senin.

Ia menjelaskan, setiap liter air nira dijual Rp5.000-Rp10.000 kepada pembuat minuman tuak, tetapi bila membuat gula aren bisa menghabiskan banyak air nira dan hasilnya pun sangat minim. Setiap kilogram gula aren menghabiskan air nira delapan hingga sepuluh liter, dan harga gula aren hanya Rp18.000/kg.

Bila dijual pada pembuat tuak untuk sepuluh liter air nira minimal sudah mendapat uang Rp50.000 hingga Rp80.000.
Dengan perhitungan itu para perajin gula aren mulai beralih menjual air nira, meskipun usaha pembuatan gua aren sudah berjalan secara turun menurun, ujarnya.

Seorang pedagang pengumpul gula aren, Ny Aminah, mengatakan, sejak air nira dijual perajin pada pembuat tuak, pasokan gula aren menurun. Biasanya setiap hari bisa memasok 500-1.000 kilogram, sekarang mendekati Ramadhan rata-rata tinggi 400 kilogram dan gula olahan (gula semut) hanya 20-an kilogram dari sebelumnya rata-rata 50 kilogram per hari.

Harga beli gula aren dari perajin naik dari Rp15.000 menjadi Rp18.000 per kilogram, dan gula semut naik menjadi Rp25.000 dari sebelumnya Rp20.000/kg. Gula aren dari Rejang Lebong sebagian besar dijual ke Palembang dan wilayah Sumsel lainnya, di samping ke Kota Bengkulu, ujarnya.(Z005)



: Rangga Pandu Asmara Jingga

COPYRIGHT © ANTARA 2026