Kota Bengkulu (ANTARA) - Tradisi menyambut akhir bulan suci Ramadhan kembali terasa hangat di tengah masyarakat Bengkulu. Jelang Lebaran atau pada malam ke-27 Ramadan untuk melaksanakan tradisi khas yang dikenal dengan Nujuh Likur atau Ronjok Sayak. 

Dalam tradisi ini, masyarakat menyalakan api dari batok kelapa atau lujuk yang disusun dan dibakar bersama, sebagai simbol perpisahan dengan bulan Ramadan sekaligus penyambutan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal.

Secara bahasa, istilah Nujuh Likur berasal dari bahasa Melayu, di mana “nujuh” berarti tujuh dan “likur” merujuk pada bilangan dua puluh lebih atau kisaran 20-an. 

Jika digabungkan, Nujuh Likur merujuk pada angka 27, yakni malam ke-27 Ramadan yang dipercaya memiliki makna istimewa. Tradisi ini pun rutin digelar setiap tahun dan menjadi momen yang dinanti oleh masyarakat.

Pelaksanaan Nujuh Likur tidak hanya sekadar membakar batok kelapa. Warga juga menghiasi lingkungan kampung dengan lampu-lampu serta ornamen sederhana yang memperindah suasana malam. 

Kegiatan ini biasanya dilakukan secara gotong royong, mulai dari proses pengumpulan batok kelapa, penyusunan, hingga penyalaan api yang dilakukan bersama-sama.

Sejarah tradisi ini berakar dari kebiasaan masyarakat lama Bengkulu, khususnya suku Serawai, yang telah melestarikannya secara turun-temurun. Pada masa lalu, api dari tempurung kelapa digunakan sebagai penerangan di malam hari, terutama di akhir Ramadhan. 

Api tersebut dipasang di depan rumah dan masjid, menjadi simbol kebersamaan sekaligus penanda bahwa bulan suci akan segera berakhir.

Lebih dari sekadar penerangan, api dalam tradisi ini memiliki makna filosofis yang mendalam. Cahaya dari batok kelapa dipercaya sebagai penunjuk jalan, simbol kebaikan.

Serta panggilan bagi warga untuk kembali berkumpul, baik dari ladang maupun aktivitas lainnya. Selain itu, api juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta tanda bahwa Ramadan hampir usai.

Di sisi lain, Nujuh Likur juga memiliki nilai sosial yang kuat. Tradisi ini menjadi sarana mempererat tali persaudaraan antarwarga, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menjaga kelestarian budaya daerah.

Identitas masyarakat Bengkulu pun semakin kuat melalui pelestarian tradisi ini yang terus dijaga hingga kini.

Sebagai warisan budaya yang sarat makna, Nujuh Likur tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga simbol kebersamaan dan kearifan lokal yang patut dilestarikan dari generasi ke generasi.



Pewarta: Anom Prihantoro
Editor : Anom Prihantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026