Bengkulu (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Bengkulu pada Mei 2026 mengalami inflasi 0,86 persen, lebih tinggi dibandingkan angka bulan sebelumnya sebesar 0,35 persen (mtm).

“Pada bulan Mei 2026 ini, inflasi kita sebesar 0,86 persen. Memang lumayan tinggi,” kata Kepala BPS Provinsi Bengkulu Win Rizal di Bengkulu, Selasa.

Dia mengatakan tingginya inflasi di Bengkulu dipicu sejumlah faktor, seperti momentum Hari Raya Idul Adha, kenaikan tarif transportasi udara, penyesuaian harga bahan bakar minyak, serta kenaikan harga komoditas hortikultura akibat terganggunya pasokan.

Menurut dia, kondisi inflasi tersebut juga terjadi hampir merata di sejumlah provinsi di Sumatra yang rata-rata mengalami inflasi bulanan di atas angka nasional yang dicatat sekitar 0,28 persen.

Win Rizal menjelaskan sektor hortikultura menjadi salah satu penyumbang inflasi karena pasokan dari daerah penghasil mengalami hambatan akibat kondisi cuaca yang tidak menentu.

Dia mengatakan kenaikan harga biaya angkutan turut mempengaruhi harga barang di pasaran karena meningkatnya biaya distribusi.

"Nah, kalau angkutan naik, pasti harganya akan naik. Itu yang harus kita antisipasi,” ujarnya.

Secara tahunan atau year-on-year, inflasi Bengkulu tercatat sebesar 3,01 persen dan dinilai masih relatif terkendali dibandingkan sejumlah daerah lain secara nasional.

Namun demikian, lanjut dia inflasi tahun kalender (ytd) hingga Mei 2026 telah mencapai 1,39 persen atau sedikit di atas angka nasional sebesar 1,35 persen.

"Yang perlu kita jaga adalah secara year-to-date. Ini karena kita sampai bulan Mei, kita sudah di angka 1,39. Nasional kan masih 1,35 persen,” ujarnya.

Menurut dia, pemerintah daerah perlu memperkuat produksi pangan lokal terutama komoditas hortikultura agar tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar daerah sehingga dapat membantu menekan laju inflasi.

 



Pewarta: Boyke Ledy Watra
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026