Bengkulu (Antara) - Kabut asap yang diduga berasal dari Provinsi Riau mulai mengganggu aktivitas melaut para nelayan di pesisir Kota Bengkulu.

"Sudah sepekan ini kabut asap menyelimuti perairan Bengkulu, ini mengganggu aktivitas kami melaut," kata Ali Basra, seorang nelayan di Pasar Pantai Malabero Kota Bengkulu, Jumat.

Ia mengatakan, asap yang mengganggu jarak pandang membuat nelayan tidak bisa melaut terlalu jauh.

Sebab, bila dipaksakan dapat membahayakan keselamatan nelayan. Karena itu kata dia, nelayan terutama yang menggunakan kapal kecil hanya berlayar sejauh 1 kilometer dari darat.

Menurut Basra, asap yang menyelimuti perairan itu dipastikan dari kebakaran hutan di Riau.

"Karena kalau kabut musiman tidak seperti ini bentuknya, ini jelas asap dari Riau," katanya.

Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Bengkulu Romi Faislah mengatakan ada tiga bahaya yang dihadapi nelayan akibat kepungan asap kiriman dari Riau.

"Pertama nelayan bisa nyasar karena tidak semua pakai GPS, terutama nelayan tradisional," katanya.

Bahaya kedua adalah kapal nelayan bisa menabrak kapal yang lebih besar, sebab pada jarak 10 hingga 20 mil di laut Bengkulu merupakan jalur pelayaran kapal-kapal besar.

Sedangkan bayaha ketiga adalah kerusakan pada alat tangkap seperti jaring, sebab nelayan tidak punya titik pandu untuk menentukan lokasi terumbu karang.

"Nelayan membutuhkan jarak pandang yang jernih ke daratan, yang berfungsi sebagai titik pandu untuk melempar alat tangkap ke posisi yang aman," katanya.

Selain itu, keberadaan puncak gunung dan sejumlah menara yang ada di daratan juga menjadi panduan bagi nelayan tradisional untuk megetahui jalan pulang ke darat.

Menurutnya, dari 500 lebih kapal kecil milik nelayan tradional yang ada di Kota Bengkulu, hanya 15 persen yang dilengkapi GPS.

"Karena itu jarak pandang yang bersih sehingga nelayan mampu melihat daratan dengan baik sangat menentukan bagi nelayan untuk melaut," katanya.

Lebih lanjut Faislah mengatakan nelayan dapat memastikan kabut tersebut merupakan kiriman dari kebakaran hutan di Riau.

Sebab, bila kabut musiman yang juga berpotensi melanda perairan Bengkulu akan membuat air laut lebih dingin dan biasanya jumlah ikan juga lebih banyak.

"Tapi kabut asap yang ada sekarang karena asap pembakaran hutan, bukan kabut musiman," katanya.

Pewarta: Pewarta Helti Marini Sipayung
Uploader : Helti Marini S

COPYRIGHT © ANTARA 2026