Bengkulu (ANTARA) - Menjelang perayaan Iduladha, daging kurban menjadi bahan utama berbagai hidangan favorit masyarakat, mulai dari sate, gulai, rendang hingga tongseng. Meski begitu, banyak orang kerap mengeluhkan tekstur daging kurban yang terasa keras dan sulit dikunyah setelah dimasak.
Melalui unggahan di akun Instagram @iqbalbandardagingjakarta dijelaskan bahwa salah satu penyebab daging kurban terasa alot berasal dari perbedaan jenis sapi yang digunakan.
Daging yang dijual di supermarket umumnya berasal dari sapi BX atau Brahman Cross impor Australia. Sementara hewan kurban di Indonesia lebih banyak menggunakan sapi lokal seperti sapi Bali, Madura, limosin, hingga simental.
Perbedaan ras sapi tersebut memengaruhi karakteristik daging, mulai dari warna, rasa, sampai teksturnya.
"Makanya kenapa daging kurban itu sering banyak banget yang basah, karena pakannya terlalu banyak mengandung air," kata dia dalam unggahan Senin (25/5).
Daging kurban disebut memiliki kandungan air lebih tinggi karena dipengaruhi jenis pakan dan pola pemeliharaan ternak.
Selain faktor jenis sapi, cara penanganan daging setelah penyembelihan juga sangat menentukan hasil akhir masakan. Banyak orang langsung mengolah daging sesaat setelah dipotong, padahal kondisi otot masih kaku karena belum melewati fase rigor mortis.
Baca juga: Pemkot Bengkulu wajibkan masyarakat membawa hewan ternak lengkapi SKKH
Baca juga: Penderita hipertensi tetap bisa makan daging kurban, ini batasan aman dari dokter gizi
Dihimpun dari berbagai sumber, berikut cara agar daging kurban lebih empuk dan tidak keras:
1. Istirahatkan daging setelah disembelih
Daging kurban sebaiknya tidak langsung dimasak setelah pemotongan. Diamkan selama kurang lebih 6–12 jam supaya otot daging melewati fase rigor mortis dan teksturnya menjadi lebih lunak secara alami.
2. Iris daging berlawanan arah serat
Amati arah serat pada daging lalu potong menyilang atau berlawanan dengan arah serat tersebut. Teknik ini membantu mempersingkat serat otot sehingga daging terasa lebih lembut saat dimakan.
3. Manfaatkan pelunak daging alami
Gunakan bahan seperti nanas, pepaya, atau jahe untuk marinasi selama 30 menit sampai 2 jam.
- Nanas memiliki kandungan enzim bromelain.
- Pepaya mengandung enzim papain.
Enzim alami tersebut efektif membantu menguraikan protein pada daging agar teksturnya lebih empuk.
4. Masak perlahan dengan api kecil
Memasak menggunakan api kecil dalam waktu lebih lama membuat daging matang sempurna dan tetap juicy. Sebaliknya, api terlalu besar dapat membuat bagian luar cepat matang sementara bagian dalam masih alot.
Baca juga: Mukomuko lepas puluhan petugas pemeriksa kesehatan hewan kurban
Baca juga: Masjid Al Jannah siap kelola hewan kurban bantuan pemerintah dan presiden
5. Gunakan panci presto untuk hasil cepat
Pressure cooker atau panci presto dapat membantu mempercepat proses memasak sekaligus membuat daging lebih lunak tanpa menghilangkan kadar airnya.
6. Hindari mencuci daging terlalu lama
Membersihkan daging secara berlebihan dapat memengaruhi kualitas dan teksturnya. Cukup cuci seperlunya sebelum mulai diolah.
7. Simpan daging dengan suhu yang sesuai
Bila belum akan dimasak, simpan daging di dalam kulkas atau freezer agar kesegaran dan kualitasnya tetap terjaga.
8. Jangan terlalu cepat memberi banyak garam
Penggunaan garam berlebih di awal proses memasak dapat membuat tekstur daging menjadi lebih keras. Sebaiknya tambahkan garam menjelang masakan matang.
9. Potong daging dengan ukuran yang pas
Potongan yang terlalu tebal biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk empuk. Iris daging secukupnya agar proses pemasakan lebih merata.
10. Sesuaikan jenis masakan dengan bagian daging
Daging dengan tekstur lebih keras cocok dimasak menjadi rendang, gulai, atau semur yang membutuhkan waktu lama. Sedangkan bagian yang lebih lembut lebih pas diolah menjadi sate atau steak.
Baca juga: Pemkot Bengkulu pastikan daging di pasar aman dikonsumsi
Baca juga: Harga daging sapi capai Rp180.000/Kg jelang Lebaran
Agar kurban di Semarang lebih ramah lingkungan
Pewarta: Vonza Nabilla SuryawanEditor : Anom Prihantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026