Kamis, 17 Agustus 2017

Dari Molek Ke Monas

id Lebong Tandai
Dari Molek Ke Monas
Lori di Lebong Tandai. (Foto Antarabengkulu.com/Helti)
Dua kereta lori itu sudah satu jam meninggalkan Desa Lebong Tandai saat gundukan tanah kuning dan bebatuan terpaksa menghentikan lajunya.

Rupanya ada longsoran kecil menutupi jalur rel kereta. Oleh "anak molek" atau sopir lori, lokasi itu disebut Gunung Tinggi, salah satu tebing yang rawan longsor.

"Lokasi ini memang sering longsor, tapi belum pernah menimpa kereta lori dan penumpang," kata Zulyan, sopir kereta lori, seolah berusaha menenangkan empat orang penumpangnya.

Pagi bergerimis pada pertengahan Mei itu tiba-tiba menghadirkan suasana mencekam, sebab buliran tanah kuning masih berjatuhan dari tebing setinggi 20 meter di sisi kanan.

Sementara di sisi kiri rel adalah jurang sedalam ratusan meter. Di bawahnya terlihat Sungai Lusang mengalir jernih.

Zulyan pun mematikan mesin dan turun dari lori. Dengan sigap ia menyingkirkan tanah dan batuan yang menutupi jalur rel.

Tanpa dikomando, penumpang lain pun turun tangan. Bermodalkan satu linggis, dalam tempo satu jam mereka mampu membersihkan jalur rel dari material longsoran.

Kereta pun melaju kembali menuju Desa Napal Putih, desa terdekat berjarak 33 kilometer dari Lebong Tandai.

Kereta itu lebih serupa kotak kayu berukuran 1,5 x 4 meter yang digerakkan mesin motor. Pada zaman kolonial, lori tersebut digunakan mengangkut hasil tambang emas.

Oleh warga setempat, alat transportasi tua dan satu-satunya untuk menuju dan keluar desa itu dinamai "molek", singkatan dari motor lori ekspres.

Keberadaan alat transportasi unik di Desa Lebong Tandai bukan tanpa alasan. Desa yang berada di pinggir Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) ini adalah desa tua yang berdiri di atas bekas konsesi pertambangan emas yang didirikan Belanda dengan bendera perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau pada 1910.

Bersama perusahaan tambang emas Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong di wilayah Tambang Sawah, Desa Lebong Tandai pernah menjadi penyumbang terbesar ekspor emas perak Hindia Belanda.

Setidaknya dua perusahaan ini berhasil meraup 130 ton emas selama berproduksi hingga berakhirnya pendudukan kolonial Belanda di Indonesia.



Sejarah Tambang

Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, punya catatan sejarah panjang dan penting dalam penambangan emas.

Tak banyak yang tahu bahwa pucuk emas di Monumen Nasional, Jakarta berasal dari wilayah itu.

Pada era Presiden Soekarno, seorang pengusaha pribumi asal Aceh bernama Teuku Markam menyumbang emas tersebut sebagai bagian dari proyek pembangunan Monas pada 1959.

Kepala Bidang Mineral dan Batu Bara Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu Solehan mengatakan penambangan emas di Lebong Tandai diawali sejak penemuan formasi emas Lebong pada 1890.

Penambangan emas yang tertua di antaranya dilakukan oleh perusahaan milik kolonial Belanda, yakni Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong dan Mijnbouw Maatschappij Simau di Bengkulu.

"Memang literatur yang kami miliki sangat minim tentang pertambangan era Belanda maupun pasca-kemerdekaan karena waktu itu pemerintahan sentralistik," kata dia.

Dalam buku berjudul "Mining in the Netherlands East Indies" yang ditulis Alex L. Ter Braake, pada 1910, sebuah perusahaan tambang emas asal Belanda, Mijnbouw Maatschappij Simau memutuskan untuk mengelola Lebong Tandai menjadi area operasional.

Di tahun itu pula, perusahaan yang saat itu baru berumur sembilan tahun tersebut membuat terowongan dan rel kereta sebagai bagian dari konstruksi pertambangan. Mereka menjadi perusahaan pertama yang melakukan eksploitasi emas secara besar-besaran di Nusantara.

Pada 1919 perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau di Lebong Tandai menghasilkan 1.111 kilogram emas dan 8.836 kilogram perak, sedangkan perusahaan Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong menghasilkan 659 kilogram emas dan 3.859 kilogram perak.

Periode 1900-1940 mungkin menjadi masa keemasan tambang ini karena mampu memproduksi 72 persen dari semua emas "Netherlands East Indies" yang totalnya mencapai 123 ton.

Menurut Solehan, setelah masa kemerdekaan, kekayaan alam Lebong Tandai berpindah ke tangan perusahaan swasta dalam negeri, PT Lusang Mining yang beroperasi pada 1983 hingga 1995.

Sejumlah aset milik perusahaan pertambangan Belanda diambilalih oleh PT Lusang Mining dan menjadikan perusahaan itu sebagai perusahaan tambang emas swasta pertama di Indonesia.

Akibat pengelolaan yang kurang tepat, PT Lusang Mining pun bangkrut meninggalkan lobang tambang di Lebong Tandai yang kini ditambang secara tradisional oleh warga desa dan pendatang.


Desa Tertinggal
Berpuluh tahun setelah kekayaan perut buminya dikeruk, bahkan dijuluki "Little Batavia" pada masa kejayaan penambangan emas, Desa Lebong Tandai justru kini tercatat sebagai salah satu desa tertinggal di Provinsi Bengkulu.

Meski dinyatakan sebagai desa defenitif, hanya 20 persen warga Lebong Tandai yang memiliki rumah sendiri. Sebagian besar menempati asrama dan bekas perkantoran milik perusahaan tambang PT Lusang Mining yang bangkrut dan hengkang dari Lebong Tandai pada 1995.

Aset perusahaan tambang dalam negeri yang pernah dipimpin Jusuf Merukh itu diketahui tercatat sebagai jaminan di PT Bank Negara Indonesia (BNI).

Seluruh penduduk Lebong Tandai tercatat berprofesi sebagai penambang emas tradisional dengan pendapatan rata-rata sebesar Rp800 ribu per minggu. Penambangan dilakukan dengan membuat lobang baru dan sebagian meneruskan lobang peninggalan perusahaan tambang.

Mereka menambang dengan alat seadanya dan tingkat keselamatan yang sangat rendah sebab tidak dilengkapi alat pengaman.

Menurut Kepala Desa Lebong Tandai Supriyadi persoalan sarana transportasi menjadi kendala utama untuk memajukan desa yang masih menyimpan segudang potensi sumber daya alam ini.

Kualitas rel kereta yang usang dan rusak di beberapa bagian malah berpotensi membuat transportasi ini membahayakan keselamatan penumpangnya.

Saat musim hujan, potensi longsor di sejumlah titik membuat desa ini kerap terisolir sehingga menyulitkan warga mendapat bahan pangan dan fasilitas kesehatan serta pendidikan.

"Kalau longsor menutup jalur rel maka harga bahan pangan akan melonjak tinggi. Ini sering terjadi, makanya banyak warga desa terlilit utang di warung-warung sembako," kata dia.

Perbaikan rel, lanjut Supriyadi, mendapat angin segar setelah baru-baru ini ia diundang ke Kementerian Perhubungan di Jakarta untuk membahas kondisi rel lori.

Selain persoalan transportasi, Supriyadi juga tengah mengupayakan pengadaan lahan pertanian bagi 310 kepala keluarga warga desa. Sebab, menurut dia, tak selamanya pertambangan emas dapat diandalkan sebagai mata pencaharian


Potensi Desa
Meski kondisi sarana transportasi tersebut memprihatinkan, keunikannya justru menjadi daya tarik bagi sejumlah turis asing penggemar wisata alam bebas.

Direktur PT Alesha Wisata, Krishna Gamawan, mengatakan keunikan transportasi dan sejarah tambang emas Lebong Tandai membuat turis asal Jepang belum lama ini memilih mengunjungi desa itu.

"Mereka justru tertarik dengan transportasi unik desa itu dan sejarahnya," kata Krishna.

Ia berpendapat, bila rel lori tersebut diperbaiki dan tingkat keamanan terjamin maka Lebong Tandai bisa menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Bengkulu Utara.

Jejak penambangan zaman Belanda dan gedung tua yang masih berdiri serta informasi sejarah pertambangan, antara lain sebagai tambang emas tertua dan memiliki kaitan dengan emas di Monas dapat "menjual" Lebong Tandai sebagai objek wisata alternatif Bengkulu.

Anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapetala) Bengkulu belum lama ini juga mengidentifikasi dan memetakan potensi wisata desa yang berbatasan langsung dengan taman nasional itu.

"Banyak potensi wisata minat khusus, seperti jeram di Sungai Lusang, treking di hutan tropis dan sejumlah air terjun yang cantik dan airnya jernih," kata Selvia Hayu Netra, ketua tim identifikasi dan pemetaan Mapala Bengkulu.

Desa Lebong Tandai dapat diakses dengan rute dari Kota Bengkulu menuju Desa Napal Putih yang ditempuh selama empat jam berkendara roda empat.

Selanjutnya, dari Desa Napal Putih menggunakan kereta lori menuju Lebong Tandai dengan waktu tempuh selama empat jam dengan jarak 33 kilometer.

"Waktu tempuh lebih lama karena ada longsor di jembatan ronggeng, jadi penumpang harus turun dan berpindah lori," kata Abidin, sopir kereta lori.

Saat ini hanya ada satu kali pemberangkatan kereta lori per hari dari Napal Putih ke Lebong Tandai dengan ongkos 40 ribu per orang. Tiga hingga empat lori per hari berangkat beriringan dari Desa Lebong Tandai dengan jam keberangkatan pukul 09.00 WIB.***1***

Editor: Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga