Jakarta (ANTARA Bengkulu) - Mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menyatakan independensi adalah kekuatan MK yang tidak bisa disentuh oleh kekuatan apapupun.
"Independensi ini adalah kekuatan MK. Tentunya independensi yang tak bisa disentuh siapapun, tidak bisa didikte pejabat setinggi apapapun, tidak terpengaruh opini publik media massa, tidak bisa ditekan LSM," kata Mahfud, saat pidato acara pisah sambut hakim konstitusi antara dirinya dengan Arief Hidayat di Gedung MK Jakarta, Senin.
Dia juga mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah mendikte hakim dalam menentukan putusannya.
"Saya melindungi hak-hak mereka. Biar ada saling kontrol," katanya.
Mahfud mengatakan bahwa putusan MK memang tidak diterima oleh semua pihak.
"Tapi kami mengukurnya dengan melihat pendapat umum, bukan yang berperkara. Penilaian media massa, itu jadi pegangan kami menilai diri sendiri," katanya.
Mahfud berharap independensi ini dipertahankan, walaupun ada ancaman pemotongan anggaran sekalipun.
"Ini harus dipertahankan, jangan mau ditekan apapun, termasuk anggarannya dipotong," kata Mahfud.
Dia menegaskan bahwa hakim harus punya moralitas, dan harus merasa gagah menjadi hakim.
"Ini penting kalau tidak ada ini nggak ada harganya kita sebagai bangsa, jual beli jabatan," katanya.
Mahfud juga mengucapkan selamat datang kepada Arief Hidayat yang menggantikan dirinya sebagai hakim konstitusi.
"Pada Pak Arief saya ucapkan selamat datang. Di sini semua serba ada, semua fasilitas semua sudah tersedia," katanya.
Wakil Ketua MK Achmad Sodiki mengaku selalu ada kenangan manis bersama dengan mantan Ketua MK Mahdud MD yang secara resmi berakhir hari ini.
"Banyak kenangan yang akan diingat oleh para hakim, para pegawai, dan semua staf yang ada di Mahkamah Konstitusi, terutama pada periode masa kepemimpinan bapak Prof. Mahfud MD," kata Sodiki.
Yang jalas, kata Sodiki, para hakim yang setiap hari bergumul dengan perkara, mengadakan rapat musyawarah para hakim, akan merasak kehilangan juga dengan kepergian Mahfud.
"Karena satu sama lain merasakan bagaimana rapat-rapat tersebut terlaksana dengan baik, sekalipun mungkin satu sama lain mempunyai pandangan yang berbeda, namun tetap sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan," katanya.
Sodiki mengatakan setiap putusan menjadi tanggung jawab bersama, sekalipun ada yang dissenting opinion.
"Ini menandakan kami berbeda tetapi tetap mempunyai satu kesatuan tanggung jawab sebagai hakim konstitusi," katanya.
Sodiki menilai, periode kepemimpinan Mahfud merupakan periode yang sangat menyenangkan.
Hal ini dirasakan oleh dirinya dan juga para hakim konstitusi lainnya, karena mereka telah bekerja dengan sejujur-jujurnya, menghindari intervensi dari luar, dan tetap menjaga independen dalam mengambil keputusan.
"Kenangan manis selalu ada dengan pak Hahfud, yang selalu memberi tauladan dan contoh. Ternyata orang Madura telah menerapkan falsafah jawa yang selalu kita pedomani kebaikannya," ujarnya.
