Selasa, 22 Agustus 2017

Nurohmad Ciptakan Alat Membatik Dari Limbah Kertas

id batik
Nurohmad Ciptakan Alat Membatik Dari Limbah Kertas
Suasana membatik. (foto/triono subagyo)
Bantul (Antara) - Perajin batik di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nurohmad berhasil menciptakan inovasi alat membatik cap dengan memanfaatkan limbah kertas kardus untuk membuat pola motif batik.

"Canting batik cap untuk pola motifnya biasanya terbuat dari bahan logam tembaga atau kuningan, tetapi saya mencoba membuat inovasi canting batik cap dengan menggunakan kertas kardus bekas seperti bungkus rokok, kardus susu, kardus obat, bungkus makanan," kata Nurohmad di Bantul, Minggu.

Menurut pembatik asal Dusun Sawit, Panggungharjo, Sewon, Kabupaten Bantul itu, dengan menggunakan media batik cap dari kertas kardus bekas ini ternyata mampu menghemat biaya produksi sekitar 50 persen dibanding dengan menggunakan bahan logam tembaga atau kuningan yang biayanya relatif mahal.

"Sedangkan untuk hasilnya dapat dikatakan tidak ada perbedaan, tetap bisa bagus dan halus," katanya.

Ia mengatakan, dalam proses pengerjaannya juga lebih cepat yakni antara satu jam hingga satu hari penuh tergantung tingkat kerumitan dan pola batik yang akan dibuat.

"Untuk merangkai kertas limbah menjadi alat membatik, dimulai dari emmotong-motong kertas sesuai dengan ukuran dan bentuk, selanjutnya dilakukan penempelan dengan menggunakan lem di atas pola gambar yang diinginkan dalam posisi berdiri pada selembar karton yang lebih tebal," katanya.

Nurohmad mengatakan, inovasi ini mulai dirintisnya sejak awal 2017, setelah sebelumnya dirinya membuat pola batik cap dengan bahan logam.

"Sampai saat ini sudah ada puluhan batik berbagai ukuran yang diciptakan menggunakan teknik ini, melalui temuan ini proses membatik menjadi lebih cepat dan lebih murah," katanya.

Berkat hasil temuannya ini, sekarang rumah Nurohmad dijadikan laboratorium batik bagi pelajar dan masyarakat umum yang ingin membuat alat batik tersebut.

"Tidak jarang pula masyarakat yang melihat kemudian memesan alat batik ini sesuai dengan motif yang diinginkan. Harga sangat bervariasi mulai dari Rp50 ribu hingga Rp150 ribu tergantung ukuran dan kesulitannya. Pemesan juga banyak berasal dari beberapa kota besar di Indonesia," katanya.

Ia mengatakan, ide menciptakan teknologi alat batik ini berawal dari keinginan untuk menciptakan allat batik yang terjangkau dan mengurangi limbah kertas.

"Saya hanya ingin menghapus kesan jika membatik itu sulit dan mahal, ini juga saya maksudkan untuk memperkenalkan kepada masyarakat terutama generasi muda tentang nilai-nilai kesederhanaan batik cap agar warisan budaya ini dapat terus bertahan," katanya.***3***

Editor: Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga