Jakarta, (Antara) - Anak yang memiliki tubuh gemuk terkadang memang terlihat lucu dan menggemaskan, apalagi anak yang gemuk kerap kali dipersepsikan sebagai anak yang sehat. Hal ini pula yang membuat banyak orang tua berlomba-lomba agar anaknya memiliki tubuh yang "montok" supaya tampak lucu dan menggemaskan.
Namun para orang tua sebaiknya lebih waspada karena tubuh gemuk tidak selalu memberikan efek positif selain lucu dan menggemaskan terhadap anak-anak, apalagi bila anak itu mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
Kelebihan berat badan atau obesitas merupakan akibat dari timbunan lemak tubuh yang berlebihan, yang terjadi ketika konsumsi kalori lebih banyak daripada yang diperlukan tubuh.
Kelebihan berat badan atau obesitas kini telah menjadi musuh baru dunia, termasuk di Indonesia, karena timbunan lemak di dalam tubuh ini tidak memberikan manfaat apapun selain penyakit yang kemudian bersarang di tubuh.
"Gemuk itu sudah termasuk penyakit. Apalagi anak-anak, bisa berakibat fatal pada saat mereka dewasa nanti," kata Ketua II Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Aman B. Pulungan SpA(K) dalam diskusi bertajuk "Cegah Obesitas pada Anak dan Remaja, Mulai Konsumsi Buah dan Sayur Secara Teratur Sejak Dini" di Jakarta, Kamis (18/7).
Berdasarkan hasil riset Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak yang gemuk atau bahkan mengalami obesitas memiliki kecenderungan untuk tetap gemuk dan obesitas saat menginjak usia dewasa. Bahkan saat dewasa muda, mereka berisiko tinggi untuk menderita intoleransi glukosa yang bisa memicu diabetes, gangguan metabolisme lemak, polycystic ovary syndrome (kista), hipertensi, bahkan berbagai penyakit degeneratif lain.
Banyaknya penyakit yang menyertai obesitas pada anak menyebabkan penderita obesitas di usia muda berisiko tinggi mengalami kematian muda atau kematian di bawah usia 55 tahun.
"Penyebab obesitas atau kegemukan itu bukan hanya faktor genetik, karena masih banyak faktor lain yang bisa menyebabkan obesitas terutama pada anak-anak," jelas Aman.
Pola makan anak pada masa kini cenderung lebih menyukai makanan cepat saji yang tinggi akan lemak jenuh. Selain itu kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan anak seperti berolahraga, menyebabkan kalori yang diasup anak tidak sesuai dengan pengeluaran.
Kalori yang masuk ke dalam tubuh, tidak seimbang dengan jumlah pengeluaran. Karena tidak terbuang, maka kalori yang merupakan energi bagi tubuh tersimpan dalam bentuk lemak.
"Pola makan, gaya hidup, aktivitas, nutrisi, serta lingkungan akan sangat mempengaruhi kondisi tubuh seseorang termasuk kadar lemak dalam tubuh," jelas Aman.
Diabetes pada anak
Timbunan lemak yang tersimpan dalam tubuh mampu mempengaruhi kerja hormon dalam tubuh manusia, termasuk hormon insulin. Hormon ini memiliki tugas untuk membantu metabolisme glukosa.
Namun banyaknya lemak yang tertimbun di dalam tubuh dapat menyebabkan penurunan sensitivitas insulin, sehingga insulin kesulitan untuk memecah glukosa dalam tubuh. Bila insulin mulai mengalami kesulitan karena kehilangan sensitivitas, maka orang tersebut tergolong positif menderita diabetes.
Hal ini kemudian tidak hanya terjadi pada orang dewasa, karena pada anak yang kegemukan atau obesitas, penyakit seperti diabetes bisa menyerang mereka tanpa harus menunggu hingga beranjak dewasa.
"Dari riset yang kami lakukan terhadap 182 anak dengan obesitas usia 12 hingga 15 tahun, tiga koma delapan persen sudah mengalami intoleransi glukosa," ungkap Aman.
Sementara itu 93,9 persen dari 182 responden menunjukkan acanthosis nigricans, atau suatu penanda terjadinya resistansi insulin pada kulit berupa kehitaman dan menebal di bagian tengkuk, ketiak, dan tangan. Ini kemudian menjadi indikator resistansi insulin yang menjadi penanda pra diabetes.
Pra diabetes merupakan awal seseorang mengalami diabetes yang ditandai dengan penurunan sensitivitas insulin.
Riset kecil lain yang dilakukan oleh tim dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) juga menyebutkan bahwa anak atau remaja yang kegemukan berisiko tinggi mengalami resistansi insulin atau pra diabetes.
Riset tersebut melibatkan 92 anak usia 12 hingga 15 tahun yang mengalami kegemukan. Hasilnya menyebutkan bahwa delapan koma tujuh persen anak sudah mengalami intoleransi glukosa. Sementara itu 71,7 persen juga menunjukkan acanthosis nigricans.
Dikhawatirkan bila hal ini terus menerus dibiarkan, maka ini akan menjadi generasi di mana anak-anak muda akan meninggal lebih cepat dibandingkan dengan orang tuanya, akibat pola makan dan pola hidup tidak sehat.
Aman juga mengungkapkan bahwa Indonesia menduduki peringkat sembilan sebagai Negara dengan penderita diabetes terbanyak di dunia.
"Berdasarkan data dari Diabetes Atlas IDF tahun 2010, lihatlah, Indonesia menduduki peringkat sembilan dengan 7,6 juta penduduk menderita diabetes," ungkap Aman.
Buah dan sayur
Dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM), Dr.dr. Fiastuti Witjaksono, MSc. MS. Sp.GK, menjelaskan bahwa pola makan dan gaya hidup yang tidak seimbang sehat menyebabkan pada saat ini menjadi satu fenomena yang disebut dengan 'obesogenic'.
"Anak-anak mengkonsumsi makanan tinggi lemak dengan mudah dan jumlah yang banyak, tapi tidak disertai pengeluaran energi yang sesuai, jadilah kegemukan atau obesitas," kata Fiastuti.
Fenomena "obesogenic" ini harus dihilangkan dengan cara menerapkan gaya hidup dan pola makan sehat sejak dini.
"Untuk mencegah obesitas pada anak, perlu memperhatikan jumlah kalori sesuai dengan kebutuhan, jenis makanan, serta jadwal waktu makan dengan baik,¿ jelas Fiastuti menjelaskan pola yang akrab disebut dengan '3J', atau jumlah, jenis, dan jadwal.
Jumlah asupan kalori harus sesuai dengan kebutuhan kalori yang dibutuhkan, sehingga energi yang tersimpan di dalam tubuh tidak akan tertimbun dalam bentuk lemak berlebih. Untuk 'J' yang kedua adalah 'jenis', maksudnya adalah seseorang harus memperhatikan komposisi jenis makanan yang dikonsumsi seperti karbohidrat, protein, dan lemak dengan lebih seimbang. Sementara itu, 'J' yang terakhir adalah jadwal makan.
¿WHO itu sudah merekomendasikan untuk meningkatkan konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian lho. Ini untuk mengatasi asupan kalori dari lemak jenuh dan ganti dengan lemak tak jenuh serta batasi asupan gula,¿ kata Fiastuti.
Buah dan sayur sangat baik dikonsumsi untuk mencegah obesitas, karena mengandung serat larut yang akan membantu penyerapan gula lebih lambat dan menjaga peningkatan kadar gula agar tidak berlebihan serta tidak menurun drastis.
Berdasarkan data dari WHO dan Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), kekurangan asupan buah dan sayur dapat menyebabkan risiko kematian akibat kanker saluran cerna sebesar 14 persen, risiko kematian akibat jantung koroner sebesar 11 persen, dan kematian akibat stroke sebesar sembilan persen.
¿Oleh karena itu biasakanlah untuk mengkonsumsi minimal dua porsi buah dan tiga porsi sayur setiap harinya,¿ tegas Fiastuti.
Aman Pulungan pun turut mendukung anjuran Fiastuti dengan mengimbau agar masyarakat lebih waspada dengan melakukan pencegahan terjadinya obesitas dengan melakukan langkah '5 2 1 0'.
"Lima yaitu konsumsi lima porsi sayur perhari, dua adalah supaya Anda tidak duduk lebih dari dua jam, satu untuk sisihkan satu jam untuk aktivitas fisik setiap hari dan 20 menir kegiatan olahraga minimal tiga kali seminggu," jelas Aman.
Sementara untuk nol, Aman mengimbau agar masyarakat tidak mengonsumsi minuman bergula sama sekali dan lebih memilih konsumsi air putih atau air mineral. *