Bengkulu (Antara Bengkulu) - Pembudidaya lele Kota Bengkulu Joni Irwan mengatakan lebih separuh konsumsi ikan lele di wilayah itu dipenuhi ikan asal luar daerah seperti Lampung, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan.
"Konsumsi ikan lele di Bengkulu kami perkirakan mencapai 5 ton per hari, sedangkan produksi hanya 2,5 ton," katanya di Bengkulu, Rabu.
Ia mengatakan selain produksi yang rendah, ketersediaan bibit dan pakan juga dipenuhi dengan mendatangkan dari luar daerah.
Kondisi ini menurutnya membuat biaya produksi budidaya lele di Kota Bengkulu lebih mahal dengan daerah lain.
"Sehingga mempengaruhi harga, dimana harga lele produksi lokal lebih mahal Rp1.000 per kilogram dibanding lele `impor`," ujarnya.
Ia mencontohkan kebutuhan bibit lele yang didatangkan dari luar daerah mencapai 50 persen dari permintaan pembudidaya di dalam kota.
Pemerintah daerah diharapkan mampu mendorong pengusaha budidaya lele untuk mengembangkan pembibitan.
"Demikian juga pabrik pakan ini sangat dibutuhkan sehingga tidak tergantung luar daerah," kata pemilik "Amenicha Catfsh Hatchery" ini.
Dengan ketersediaan bibit dan pakan, produksi lele lokal dapat ditingktkan dengan sistem baru dengan sistem "biofloc".
"Biofloc" berasal dari kata bios atau kehidupan dan floc atau gumpalan, sehingga biofloc adalah gumpalan yang tersusun atas mikroorganisme, bahan organik dan mineral.
Kelebihan sistem ini antara lain pergantian air lebih sedikit, padat tebar lebih tinggi sehingga produktivitas meningkat sedikit membuang limbah.
"Sebagian limbah didaur ulang menjadi protein dan menjadi makanan alami," katanya.
Selain itu limbah sangat baik digunakan sebagai pupuk organik untuk pertanian. Hasil produksi lebih berkualitas karena 100 persen menggunakan pakan produksi pabrik yang difermentasi. (Antara)
