“Emas-emas tersebut dimasukkan ke dalam peti, kemudian dibawa menggunakan lori. Setelah turun dari lori, emas tersebut dibawa ke pelabuhan untuk diangkut dengan kapal di laut,” tulis penelitian tersebut.
 
Ilustrasi - Proses pemisahan emas dari bongkahan tanah dan batu yang mengandung emas, menggunakan tenaga air, di Desa Tambang Sawah Kecamatan Pinang Belapis, Lebong, Bengkulu, Minggu (30/5). Sebanyak 30 penambang emas di sekitar lokasi tambang yang dibuka pada masa kolonial Belanda itu masih mengandalkan tambang emas tradisional tersebut untuk mencari nafkah dengan pendapatan rata-rata 0,5 gram emas mentah seharga Rp60 ribu per hari. (ANTARA/Helti Marini Sipayung)


Melihat penguasaan sumber tambang dan eksploitatif di masa lampau, Lebong menjadi salah satu pengekspor utama emas dan perak di Hindia Belanda. Pada 1936, tercatat penguasaan sumber-sumber tambang dan eksploitasi yang massif membuat Lebong menjadi salah satu pengekspor emas dan perak yang utama di Hindia Belanda.

Pada tahun 1936, emas dari Lebong bernilai 3.538.00 gulden yang berarti 94,5 persen dari seluruh ekspor dari Hindia Belanda.

Baca juga: Pendaki meninggal di atas Bukit Daun Rejang Lebong berhasil dievakuasi
Baca juga: Dispar Rejang Lebong usulkan Karnaval Sindang Dataran masuk KEN


Pewarta: Maulana Kautsar
Editor : Anom Prihantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026