"Untuk korban yang meninggal dunia ini, dua orang berasal dari Curup Kota dengan jenis kelamin laki-laki dan satu lagi dari Kecamatan Curup Timur berjenis kelamin perempuan," kata Kabid Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan Rejanglebong, Nunung Tri Mulyanti, Jumat.
Untuk korban yang meninggal dunia tersebut, kata dia, dengan kategori usia anak-anak dan dewasa. Ketiganya meninggal dunia lantaran terlambat mendapatkan pertolongan tim medis karena menduga hanya mengalami demam biasa sehingga baru dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Korban yang meninggal dunia ini selain sempat menjalani perobatan di RSUD Curup, juga ada yang berobat di luar daerah seperti Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, maupun di rumah sakit Kota Bengkulu.
"Ketiga korban yang meninggal dunia ini terjadi pada pertengahan tahun lalu, dan satu orang beberapa hari lalu," ujarnya.
Sementara itu, 181 warga yang terjangkit DBD tersebut berasal dari berbagai tingkatan umur mulai dari anak-anak, dewasa dan lanjut usia. Para penderita ini tersebar dalam 15 kecamatan di Rejanglebong, dengan sebaran terbanyak penduduk yang bermukim di lima kecamatan di dalam kota yakni Kecamatan Curup, Curup Timur, Curup Tengah, Curup Selatan, dan Kecamatan Curup Utara.
Meningkatnya jumlah penderita DBD di daerah itu, kata dia, disebabkan beberapa faktor antara lain akibat musim pancaroba dari musim kemarau ke penghujan, kemudian pengaruh adanya perkembangan nyamuk penyebab DBD, serta buruknya sanitasi lingkungan dengan tidak terjaganya kebersihan lingkungan masyarakat.
Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan ini membuat penyebaran DBD yang disebabkan gigitan nyamuk aides aigipty itu bisa kapan saja dan di mana saja.
Untuk itu dia mengimbau masyarakat agar mewaspadai penyebaran DBD dengan jalan menjaga kebersihan lingkungan, kemudian melakukan gerakan 3M plus yakni menguras bak penampungan air, menutup tempat penampungan air serta mengubur barang bekas serta menaburkan bubuk abate di tempat penampungan air.
"Selama ini masyarakat hanya tahu kalau ada kasus DBD maka harus dilakukan `fogging` saja, padahal jika ini dilakukan terus-menerus bisa menjadikan nyamuk kebal. Dan `fogging` ini juga bisa membahayakan kesehatan masnusia kalau sampai terhirup," katanya. ***4***
Pewarta: Nur MuhammadUploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.