Yogyakarta (ANTARA Bengkulu) - Pameran seni rupa karya sepuluh wanita bertajuk "Membatalkan Keperempuanan" menghadirkan proses diskusi tentang perempuan yang personal ke publik, kata pengamat seni Lisistrata Lusandiana.
"Diskusi itu bisa mengenai apa saja yang paling menimbulkan kegelisahan dan banyak hal yang bisa memicu kegelisahan yang berbeda-beda, terkait dengan pengalaman dan pengetahuan masing-masing," katanya di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu.
Menurut dia di sela-sela pameran "Membatalkan Keperempuanan" di Sangkring Art Space, diskusi itu bisa saja berupa tradisi patriarki, agama, pendidikan, dan cinta. Kegelisahan yang didiskusikan dalam diri itu kemudian dibagikan melalui seni, agar hadir ke ruang yang lebih lebar.
"Perempuan dihadirkan dalam karya masing-masing perupa wanita menurut interpretasinya tentang keperempuanan tersebut. Pesan yang disampaikan adalah suatu proses untuk mendefinisikan perempuan, mencoba mengatasi berbagai label yang menempel dan berusaha ditempelkan pada perempuan dengan seni," katanya.
Ia mengatakan, "Membatalkan Keperempuanan" merupakan ajakan untuk bertemu dengan diri. Siapapun, entah lelaki, perempuan, anak-anak atau dewasa, tidak bisa menghindar dari pelabelan dan penempelan peran dari masyarakat. Hal itu tidak selalu buruk, tetapi perlu disikapi sebagai ruang yang ikut membentuk definisi.
"Keperempuanan bukan sesuatu yang sudah jadi dan utuh dalam dirinya, melainkan selalu dalam proses menjadi. Dalam prosesnya menjadi perempuan tersebut tidak ada satu konsep besar tunggal yang bisa menunjukkannya," katanya.
Menurut dia, apa yang ingin dilakukan itu bukan pula untuk membuat rumusan tunggal tersebut. Namun, bersama-sama berproses dengan cara masing-masing, salah satunya bisa dimulai dengan lebih mengenali diri.
"Batal berarti tidak jadi. Keperempuanan dimaknai sebagai sesuatu yang belum jadi, dibatalkan. Dari sini muncul ruang kosong, yang memperbesar beberapa kemungkinan, di antaranya menjadikan keperempuanan tersebut hadir ataupun tidak," katanya.
Ia mengatakan, jika keperempuanan diartikan sebagai segala hal terkait dengan perempuan, maka hal itu tidak bisa dihindari, sejauh dapat diterima adanya label perempuan.
"Dalam hal ini yang menarik untuk dilakukan adalah menempatkan daya yang dimiliki perempuan untuk mendefinisikan perempuan dan bersuara dengan seni seperti yang dilakuan sepuluh perupa wanita yang terlibat dalam pameran tersebut," katanya.
Kesepuluh perupa wanita yang tergabung dalam Ketjil Bergerak itu adalah Arini Imani Shofia, Bonita Margaret, Deidra Mesayu, Idealita Ismanto, Lashita Situmorang, Lia Mareza, Maria Indria Sari, Maria Magdalena Nurify, Utin Rini, dam Wahyu Wiedyardini.
Pameran yang menghadirkan puluhan karya itu digelar dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Pameran akan berlangsung hingga 15 Maret 2012.
(L.B015*H010/M008)
