Rejang Lebong, Bengkulu (ANTARA) - Bengkulu tidak hanya memiliki keanekaragaman flora yang melimpah. Tradisi dan budaya di Bengkulu juga beragam karena perpindahan penduduk.

Penelitian yang ditulis Lindayanti di Jurnal Humaniora 2006 berjudul “Menuju Tanah Harapan: Kolonisasi Orang Jawa di Bengkulu” menyebut terjadi dua periode migrasi. “Pada masa percobaan kolonisasi dan masa kolonisasi setelah 1930,” tulis Lindayanti diakses ANTARA News Bengkulu, Kamis.

Perpindahan penduduk ini, menurut Lindayanti, terjadi karena kebijakan kolonial Belanda mengenai kebutuhan tenaga kerja dan perluasan lahan pertanian. Kebijakan serupa ini kemudian diteruskan setelah merdeka. Bengkulu masih menjadi tujuan untuk program transmigrasi.

Baca juga: Disnaker: Tujuh perusahaan di Bengkulu telah selesaikan THR pegawai
Baca juga: Ustadz daerah transmigrasi Lunang Silaut dapat penghargaan Mendes PDTT


Generasi yang bertahan salah satunya terlihat di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, Desa Tanjung Beringin dihuni 1.166 orang.
 
BENGKULU, 17-9-1980. Menteri Nakertrans Harun Zain dalam kunjungan kerja selama empat hari di Bengkulu meninjau proyek transmigrasi Kuro Tidur, Bukit Peninjauan I dan II, serta rencana pembangunan proyek transmigrasi di Ketahun.Rabu (17/9/1980). Pada gambar Menteri Harun Zain sedang berdialog dengan salah seorang transmigrasi di proyek WPP V Ketahun. Bagaimana, betah di sini tanya Menteri, betah pak sebab tanah luas, kami bisa bercocok tanam dan lihat tanamannya mulai berbuah kata transmigran tersebut, bangga. Daerah tersebut kini sudah dihuni 1.200 KK dari Wonogiri meliputi luas 300 Ha. (ANTARA FOTO/BK/01/es/dw.)


Desa ini sempat direkam YouTube Ono Ndeso. Dalam unggahannya, si pemilik akun YouTube sempat mewawancari penghuni Desa Tanjung Beringin.

Pewarta: Maulana Kautsar
Editor : Anom Prihantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026