Bengkulu (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu membuat program penanaman kopi di pinggiran kawasan hutan sebagai upaya menjaga luas tutupan hutan.
"Di pinggiran-pinggiran hutan agar tidak terjadi perambahan dan perusakan hutan, maka Pemprov Bengkulu fokus juga bagaimana pinggiran hutan yang ada, masyarakat fokus untuk penanaman kopi," kata Gubernur Bengkulu Helmi Hasan di Bengkulu, Senin.
Menurut dia, Provinsi Bengkulu merupakan provinsi konservasi dan tidak mau kehilangan luas tutupan hutan, namun tetap juga memberikan kesejahteraan pada masyarakat.
Oleh karena itu, kata dia, perlu program pengelolaan hutan yang tidak merusak hutan, seperti penanaman kopi pinggiran hutan, sehingga masyarakat mendapatkan nilai ekonomi dengan merusak hutan.
"Karena (memilih) kopi ini, Provinsi Bengkulu memiliki komoditas kopi, mudah-mudahan dengan kualitas yang baik, sertifikasi internasional, maka harga kopinya betul-betul ada manfaat. Sehingga masyarakat tidak tertarik untuk menebang pohon, justru memelihara hutan," kata dia.
Untuk meningkatkan mutu kopi Bumi Merah Putih itu, Pemprov Bengkulu membangun riset tentang kopi baik dari tingkat produksi hingga jaringan industri kopi.
Tim akademisi melakukan survei ke beberapa kabupaten penghasil kopi di Bengkulu untuk melihat potensi dan kesiapan daerah.
Targetnya, kata dia, kopi Bengkulu bisa masuk ke pasar global dan harganya di tingkat petani menjadi lebih baik, harga yang didapat petani menjadi harga internasional, dan meningkatkan kesejahteraan pada petani, serta mengakselerasi perekonomian daerah.
Helmi Hasan menyatakan Bengkulu nantinya juga akan membangun hilirisasi industri turunan produk kopi, contohnya sabun berbahan dasar kopi, memperkuat branding kopi daerah, dan hilirisasi juga akan memperluas pasar komoditas kopi Bengkulu.
