Bengkulu (ANTARA Bengkulu) - Empat kabupaten di empat provinsi yang memiliki wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat menerima dana hibah konservasi melalui Program "Tropical Forest Conservation Action for Sumatera" (TFCA-Sumatera).
Koordinator Aliansi Konservasi Alam Raya (AKAR) Network Barlian di Bengkulu, Kamis, mengatakan, keempat kabupaten tersebut yakni Kabupaten Kerinci dan Merangin Provinsi Jambi, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dan Kabupaten Mukomuko, Bengkulu.
"Kami mendapat dana hibah senbesar Rp4,7 miliar itu untuk penyelamatan hutan tropis Sumatra khususnya TNKS dan program itu akan berlangsung tiga tahun," katanya.
Ia mengatakan, dana hibah tersebut merupakan pengalihan hutang yang dibuat Pemerintah Amerika Serikat dan Pemerintah Indonesia yang ditujukan untuk melestarikan kawasan hutan tropis di Sumatra.
Dana hibah untuk TNKS dikelola AKAR Network yang merupakan konsorsium enam lembaga yang bekerja di empat provinsi tersebut yakni Perak, Lembaga Tumbuh Alami (LTA), Lembaga Tiga Beradik (LTB), Perlindungan Harimau Sumatra (PHS) Provinsi Jambi, Institute Conservation Society (ICS) Sumatra Barat dan Genesis, Bengkulu.
Tujuan umum program itu untuk memelihara bentang alam dan keragaman hayati di kawasan konservasi dan hutan negara di TNKS melalui pemberdayaan masyarakat setempat untuk memulihkan fungsi koridor dan pengendalian pemanfaatan sumber daya hayati. "Program ini untuk memelihara kawasan konservasi tapi juga meningkatkan ekonomi masyarakat lokal," katanya.
Ia mengatakan, tiap kabupaten akan dipilih lokasi kegiatan seperti di Kabupaten Kerinci terdapat sembilan desa, Merangin delapan desa, Mukomuko tujuh desa dan Solok Selatan sebanyak tujuh desa.Pemulihan kawasan hutan penyangga dilakukan dengan penanaman 45.000 pohon di kawasan kritis, seperti daerah aliran sungai.
Pohon yang ditanam merupakan tanaman asli kawasan tersebut yang dapat dimanfaatkan seperti pohon mendangan, kepayang dan damar.Selain itu, program selama tiga tahun dengan dana sebesar Rp4,7 miliar tersebut juga digunakan untuk mitigasi konflik satwa langka terancam punah yakni harimau Sumatra (Phantera tigris Sumatrae).
"Kami membentuk tim patroli yang akan melakukan penyisiran rutin untuk membersihkan jerat harimau di dalam TNKS di empat kabupaten ini," tambahnya. Program konsorsium AKAR Network tersebut juga telah dikoordinasikan dengan pemerintah daerah di empat kabupaten dan provinsi untuk menjalin sinergi. (rni)
