Musi Rawas, Sumsel (ANTARA Bengkulu) - Petani Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatra Selatan, sampai kini masih mengandalkan cara tradisional untuk membasmi hama tikus yang menyerang tanaman padi sawah mereka.

"Cara tradisional itu misalnya melalui gropyokan yaitu (petani beramai-ramai membunuh dan membongkar sarang tikus di sawah---red)," kata Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Perlindungan Hama Penyakit Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Musi Rawas Anwar Effendi, Jumat.  

Ia menjelaskan, cara tradisional itu saat ini masih menjadi cara yang efektif dalam pembasmian hama tikus yang dilakukan petani, meski pengasapan dan pemberian racun juga dilakukan. Namun teknik tradisional ini dinilai murah meriah dan lebih nyata hasilnya.

Pembasmian tikus itu kata dia, biasanya dilakukan petani yang tergabung dalam kelompok tani dalam jumlah besar dengan fokus pada lokasi-lokasi yang terserang hama tikus.

Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dua kali dalam setahun yang dibiayai pemkab setempat berupa insentif bagi petani yang dapat membunuh tikus diberi Rp500 per ekornya.

Pembasmian tikus ini akan dilaksanakan usai musim tanam November 2011-Maret 2012 atau bersamaan dengan pengeringan total sawah untuk rehab jaringan irigasi Muara Kelingi selama lima bulan.

Kecamatan yang akan diprioritaskan untuk pelaksanaan gropyokan pada lima kecamatan penghasil beras antara lain Kecamatan Tugumulyo, Muara Beliti, Purwodadi, Megang Sakti dan Kecamatan Sumber Harta.

Serangan hama tikus di sejumlah kecamatan di Kabupaten Musi Rawas, pada 2011 kata dia terjadi di sejumlah desa pada lima kecamatan sentra beras seluas 20 hektare.

Karena itu pemda setempat tidak akan membiarkan hama tikus yang dapat mengganggu produktifitas beras setempat.

"Satu ekor saja tikus mampu berkembangbiak dengan cepat dan dapat melahirkan anakan hingga puluhan ekor dalam sebulan," katanya.

Sementara itu Suprianto (40) salah seorang petani di Desa R-Rejosari, Kecamatan Tugumulyo, menyambut baik rencana kegiatan gropyokan tikus yang akan dilaksanakan pemkab setempat, karena dinilai positip guna mengatasi serangan hama tikus yang terjadi hampir setiap tahun.

"Serangan hama tikus juga ditambah hama walang sangit yang membuat sebagian besar petani di desa ini gagal panen, kalau pun dapat padi tapi hasil cuma tinggal beberapa karung saja," katanya.

Serangan hama tikus di desa mereka kata dia, terjadi saat padi mulai berbuah karena memakan batang sehingga padi menjadi mati. (KR-NMD/I016)

Editor: Awi
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar