Jakarta (Antara Bengkulu) - Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) M Nasser mengatakan para anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri perlu melengkapi diri dengan kemampuan berdialog untuk menahan laju ajaran agama yang bertentangan.
"Densus 88 bukan saja perlu menyempurnakan organisasi sebagai satuan serbu elit Polri tetapi juga sudah saatnya melengkapi diri dengan kemampuan untuk melakukan dialog dan dakwah untuk kemuliaan tauhid dan aqidah yang murni Islamiyyah," kata Nasser dalam keterangan tertulisnya yang diterima Antara di Jakarta, Minggu.
Kemampuan Densus 88 untuk berdialog akan menjadi suatu cara penyesuaian pendekatan dalam mengambil tindakan. Apalagi, teroris kini juga semakin rajin berbaur dengan masyarakat dalam menyebarkan ajaran dan merekrut orang.
"Melihat eskalasi teroris yang semakin rajin berbaur dengan masyarakat maka sudah selayaknya pola organisasi dan cara bertindak Densus 88 (juga) menyesuaikan diri," katanya.
Menurut Nasser, saat ini ada gerakan yang merupakan rangkaian usaha oleh kelompok radikal tertentu untuk mempengaruhi masyarakat dengan paham Islam yang sesat dan berakar pada kedangkalan pengetahuan agama.
Keyakinan akan jihad, fa'i (kegiatan mengumpulkan dana untuk kegiatan terorisme) dan thaghut yang bertentangan dengan kemuliaan agama, ditularkan kepada masyarakat dengan memanfaatkan ketidaktahuan dan kemiskinan mereka.
"Hal ini harus disikapi oleh orang tua, guru, pemuka agama, ormas Islam dan juga komponen-komponen masyarakat dan melahirkan kewajiban kita semua termasuk aparat negara harus untuk ikut bertanggung jawab," katanya.
Lebih lanjut, Nasser menilai bahaya nyata terorisme sudah berada di depan mata. Dia juga menilai keberadaan Densus 88 justru sangat dibutuhkan untuk melindungi segenap warga negara dari bahaya terorisme.
"Beberapa bulan lalu, kami telah melakukan pencermatan detil terhadap Densus 88. Hasilnya kami berkesimpulan bahwa Densus 88 memiliki standar prosedur operasi yang kredibel dan akuntabel. Artinya, seorang anggota Densus 88, baru akan menembak bila terpenuhi SO( standar operasi,red) P," katanya.
Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri telah menangkap terduga teroris dari empat lokasi yang diduga menjadi sarang komplotan itu, yaitu Jakarta, Bandung, Kendal dan Kebumen. Tujuh diantaranya tewas saat ditangkap sementara 13 orang lainnya berhasil ditangkap hidup.
Para terduga teroris yang ditangkap di Jakarta dalam keadaan hidup yakni Faisal alias Boim, Endang, Agung, Agus Widharto dan Iman. Sedangkan yang ditangkap di Kendal yakni Puryanto dan Iwan.
Sedangkan terduga teroris yang ditangkap di Kebumen yakni Farel, Wagiono, Slamet dan Budi. Kemudian terduga teroris yang ditangkap di Bandung yakni William Maksum alias Acum alias Dadan dan Haris Fauzi alias Jablud.
Kelompok ini merupakan sisa kelompok Abu Omar dan Autad Rawa. Pengakuan sementara, yaitu mereka melakukan pencarian dana. untuk mendukung Mujahidin Indonesia Timur di Poso Pimpinan Autat Rawa dan Santoso.
