Mukomuko (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mukomuko, Provinsi Bengkulu, mengimbau warga untuk berhati-hati saat melakukan tradisi atau kebiasaan mandi "balimau" di sungai menjelang bulan Ramadhan karena situasi ekstrem air bisa mendadak naik setinggi empat meter saat curah hujan tinggi.
"Masyarakat harus bisa baca keadaan bencana, situasi ekstrem peringatan air naik empat meter saat curah hujan tinggi, makanya harus hati-hati," kata Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Mukomuko Amri Kurniadi saat dihubungi dari Mukomuko, Rabu.
Mandi "balimau" merupakan salah satu tradisi atau kebiasaan turun temurun masyarakat di Kabupaten Mukomuko, sebelum warga masyarakat di daerah ini menjalani ibadah puasa di Bulan Ramadhan.
Bagi sebagian masyarakat di daerah itu, mandi "balimau" atau mandi menggunakan jeruk nipis dan bahan alami lainnya, selain bisa dilakukan di tempat terbuka, seperti sungai, juga bisa di tempat tertutup di rumah.
Selain itu, ia juga menyarankan, sebaiknya tradisi mandi "balimau" di sungai atau tempat terbuka, jangan bercampur antara perempuan dan laki-laki.
Jangan karena mandi "balimau" dapat merusak ibadah puasa, karena tujuan tradisi ini mandi itu untuk membersihkan seluruh badan sebelum memasuki bulan puasa.
Selain itu, katanya, sebaiknya tradisi ini dijalankan di rumah karena tradisi mandi "balimau" ini pengganti sabun dan sampo supaya orang harum dan wangi.
Dia menyatakan, tidak ada dalil dalam agama Islam untuk melakukan mandi "balimau", hanya tradisi orang menyambut tamu dengan bergembira karena orang senyum, senang, dan sehat menyambut bulan Ramadhan.
Terkait dengan pemerintah daerah sendiri, katanya, sampai sekarang belum ada petunjuk dari kepala daerah mengadakan tradisi mandi "balimau" untuk melestarikan tradisi lama warga Mukomuko.
Sementara itu, ia mengatakan masyarakat sudah paham tradisi mandi "balimau" dijalankan dengan kehati-hatian, apalagi di sungai ada buaya.
"Jangan sampai karena tradisi dilakukan berlebihan sehingga di saat orang mau masuk puasa, orang disibukkan mengurus kita," demikian Amri.*
