"Menurut aku masih memungkinkan untuk horor Indonesia ini lebih laku daripada horor luar negeri. Kenapa? Karena lingkungan di Indonesia masih erat dengan budaya mistisnya, jadi orang-orang tuh pada merasa dekat dengan lokalitas horor Indonesia yang dimasukin ke filmnya," kata Jinu.
Ia juga menjelaskan bahwa meskipun sama-sama menyeramkan, tetapi masih terdapat jarak antara masyarakat dengan film horor asing.
Contohnya, tidak semua orang Indonesia bisa dengan mudah terhubung dengan The Conjuring, waralaba horor terlaris dalam sejarah perfilman, terutama mereka yang tidak menganut agama Kristen/Katolik.
Namun, meski horor lokal sangat digemari, sebagian penonton justru merasa lebih tertantang oleh film horor luar negeri.
Rachel, seorang penyuka film psychological horror mengaku mengapresiasi horor asing karena eksplorasi psikologisnya yang mendalam. Film seperti Hereditary (2018) dan Midsommar (2019) menggali ketakutan eksistensial dan trauma keluarga, menawarkan pengalaman edukatif tentang kondisi mental dan dinamika sosial.
Sebaliknya, horor lokal lebih menonjolkan mistisisme dan makhluk supranatural, yang meskipun berbeda pendekatan, tetap menyampaikan pesan moral dan sosial yang kuat. Keduanya, baik lokal maupun asing, memperkaya pemahaman penonton tentang berbagai bentuk ketakutan dan cara manusia menghadapinya.
Satu hal lagi yang membuat film horor impor lebih menarik bagi sebagian penonton adalah alur cerita yang lebih variatif.
Seorang penggemar film, Rizqita mengaku ia lebih menyukai film horor asing karena jalan ceritanya tidak mudah ditebak. Berbeda dengan film lokal yang sering kali terasa repetitif sehingga ia dapat menebak adegan berikutnya atau akhir dari ceritanya.
Film horor baik lokal maupun asing terus memberikan pengalaman unik dan memikat bagi masyarakat Indonesia. Genre ini selalu punya cara untuk membuat penontonnya terus penasaran dan ketagihan.
Lebih penting lagi, film horor bukan hanya tentang rasa takut. Ia adalah cermin budaya, guru psikologis, dan medium edukatif yang mengajak penonton untuk memahami diri, masyarakat, dan sejarah.
Dengan pendekatan yang tepat, genre ini dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif, baik di ruang kelas, komunitas, maupun ruang refleksi pribadi.
