Bengkulu (ANTARA Bengkulu) - Bekerja dengan hati yang ikhlas menjadi motivasi Mursidin, warga Jalan Danau Tes Kelurahan Dusun Besar Kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu untuk menjalani perkerjaan mulianya sebagai pengurus makam.
"Selama bekerja sebagai pengurus makam saya selalu bekerja dengan hati yang ikhlas agar pendapatan mendapatkan berkah dari Allah," kata pengurus tempat pemakaman umum Kelurahan Dusun Besar Kota Bengkulu, Mursidin kepada reporter antarabengkulu.com, Jumat.
Bapak berusia 55 tahun ini menjelaskan, pekerjaannya menuntut hati ikhlas karena pendapatan yang diperoleh tidak menentu dan tidak setiap hari.
"Kami tidak bisa menetapkan tarif kepada setiap keluarga yang sedang dalam suasana duka dan sebagian besar mereka tergolong berpenghasilan menengah ke bawah. Selain itu, kadang hanya sekali sebulan bekerja," kata suami dari Jamiah ini.
Karena penghasilan tak menentu, bapak dari empat orang anak ini harus bekerja sebagai pembuat atap daun rumbia untuk tetap bisa memberi nafkah bagi keluarganya.Berkat kerja kerasnya selama ini empat orang buah hatinya berhasil menamatkan pendidikan dari jenjang SMA hingga perguruan tinggi.
"Bekerja sebagai pengurus makam adalah panggilan jiwa saya. Tugas saya sebagai pengurus makam antara lain menggali kuburan dan merawat kebersihan pemakaman seluas tiga per empat hektar," kata kakek dari lima orang cucu ini.
Pria yang hanya berijazah Sekolah Dasar ini menceritakan sudah selama 15 tahun bekerja sebagai pengurus makam dengan berbagai pengalaman suka maupun duka.
"Salah satu pengalaman duka yang saya alami antara lain adakalanya makam yang sudah digali tiba-tiba runtuh karena tanah di kanan serta kirinya belas makam sebelumnya," kata pria yang gemar berolah raga sepak bola ini.
Bapak yang pernah bekerja sebagai honor di kantor Bappeda Provinsi Bengkulu selama sembilan tahun ini juga harus bekerja hingga pukul 10 malam dalam suasana hujan lebat jika ada jenazah yang harus segera dimakamkan.
"Pengalaman unik yang pernah saya alami adalah mencium bau yang sangat harum selama menggali lubang makam pada 23 Mei 2011. Bahkan, salah seorang teman saya yang ikut menggali kuburan menderita demam," kata pria yang gemar mencari ikan dengan bubu di Danau "Dendam Tak Sudah" ini.
Bapak yang memiliki motto hidup "Biar tidur di bawah pohon kelapa asalkan anak-anak maju" ini memperkirakan jenazah yang dimakamkan tergolong orang baik sehingga tanah pun menerimanya dengan suka cita.(mhe)
