Kota Bengkulu (ANTARA) - Pada Senin (22/09), pertemuan tingkat tinggi di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) resmi digelar, mempertemukan para pemimpin dunia dalam KTT yang berfokus pada solusi dua negara antara Israel dan Palestina. KTT ini, yang diprakarsai oleh Prancis dan Arab Saudi, mengangkat isu krisis Gaza, masa depan Palestina, dan upaya menghidupkan kembali gagasan solusi dua negara yang telah lama terpendam.
Namun, meski upaya diplomatik ini mendapat dukungan luas dari negara-negara seperti Inggris, Kanada, dan Portugal, Israel dan Amerika Serikat memilih untuk memboikot pertemuan tersebut.
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, dengan tegas menyebut forum ini sebagai "sirkus", menambahkan bahwa pengakuan terhadap Palestina hanya akan mengarah pada penghargaan terhadap "terorisme".
Prancis diperkirakan akan segera mengumumkan pengakuan resmi terhadap Palestina, yang diikuti oleh negara-negara lain seperti Belgia. Langkah ini semakin memperkuat momentum diplomatik di PBB untuk mendorong lahirnya solusi dua negara sebagai jalan keluar dari konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina.
Baca juga: Presiden Prabowo buka opsi akui Israel, jika Israel akui Palestina
Baca juga: Paus Leo untuk Israel: tidak ada masa depan berlandaskan kekerasan
PBB sendiri berharap KTT ini dapat memberikan dorongan baru dalam mewujudkan peta jalan perdamaian yang telah disetujui sebelumnya dalam Deklarasi New York. Deklarasi tersebut menyerukan langkah nyata seperti gencatan senjata di Gaza, pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, serta desakan kepada Hamas untuk menyerah dan membebaskan tawanan.
