Bengkulu (ANTARA) - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Bengkulu menyebutkan Desa Rama Agung di Kabupaten Bengkulu Utara sebagai contoh nyata desa dengan zero konflik agama maupun sosial.
“Rama Agung menggambarkan kepada kita semua bahwa di tengah perbedaan agama masyarakat tetap bisa bergandengan tangan saling menghargai dan saling mengasihi," Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bengkulu Saefudin Latief di Bengkulu, Rabu.
Saefudin menyampaikan setelah melakukan kunjungan Desa Rama Agung, Kabupaten Bengkulu Utara. Dia mengatakan kunjungan tersebut merupakan bentuk komitmen Kementerian Agama untuk memastikan nilai moderasi beragama tidak berhenti pada predikat semata, tetapi benar-benar hidup dan terawat di tengah masyarakat.
Menurut dia, Desa Rama Agung telah dianugerahi sebagai kampung moderasi beragama oleh Kementerian Agama pada 2023 atas keberhasilan masyarakat menjaga harmoni di tengah keberagaman.
Saefudin menegaskan predikat tersebut bukan tujuan akhir, melainkan tanggung jawab bersama untuk terus merawat kerukunan di lingkungan desa.
"Predikat desa paling harmonis ini bukanlah akhir. Zero konflik bukan berarti kita sepenuhnya terhindar dari potensi konflik, tetapi menjadi pengingat agar kita senantiasa membentengi diri dengan dialog sikap saling memahami dan komitmen kebersamaan," kata Saefudin.
Sementara itu, Kepala Desa Rama Agung Putu Suriade mengatakan desanya menjadi percontohan kerukunan umat beragama sejak 2020 dengan masyarakat yang hidup berdampingan secara damai.
"Dengan keberagaman yang ada masyarakat Desa Rama Agung hidup berdampingan secara rukun. Hingga saat ini tidak pernah terjadi konflik berlatar belakang agama. Harapan kami kondisi ini terus terjaga dan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain," ujar Putu Suriade.
Menurut dia, keberagaman agama di Desa Rama Agung yang terdiri atas Islam, Hindu Budha, Katolik, dan Kristen menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis serta saling menghormati.
