Musirawas, Sumsel (Antara) - Para petani padi sawah di sentra produksi beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan banyak beralih menanam sayur dan palawija, karena kekurangan air.
Untuk menanam padi saat ini banyak kendala antara lain kekurangan pasokan air irigasi dan tingginya biaya pengolahan akibat harga pupuk mahal, kata seorang petani sayur di Kecamatan Sumer Harta Sugianto dihubungi, Senin.
Ia mengatakan, lahan sawahnya seluas satu hektare sudah dua kali musim tanam beralih menanam sayuran jenis cabai, bayam, pare dan timun.
"Kami setiap minggu bisa panen dan hasilnya cukup lumayan, bila dibandingkan dengan menanam padi saat panen harganya anjlok dan sulitnya mendapatkan pupuk," ujarnya.
Dengan menanam sayur kondisi ekonomi rumah tangga terjadi peningkatan, karena ketika panen permintaan cukup banyak bahkan pedagang datang ke lokasi membeli sayur, ujarnya.
Sementara, kata dia, perawatan tanaman sayuran tidak membutuhkan dana terlalu besar dibanding menanam padi, contohnya tanaman mentimun dan pare pada usia 40 hari sudah bisa dipanen dan selanjutnya setiap hari bisa dipetik untuk dijual ke pedagang pengumpul.
Dari hasil menanam sayur, pihaknya bisa membeli beras dan bahan pokok lainnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, katanya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Musirawas Suharto melalui Kabid Produksi Tohirin membenarkan, petani yang sawahnya tidak mendapat air secara normal dari saluran irigasi sebagian besar beralih menanam sayur dan palawija.
Langkah petani itu sangat tepat dalam memanfaatkan lahan produktif selain padi, karena di wilayah tersebut akhir-akhir ini kekurangan pasokan air irigasi akibat keberadaan kolam air deras liar.
Namun bila bangunan bendungan Sungai Selangit sudah berfungsi pada 2014, seluruh sawah di wilayah itu akan mendapatkan pasokan air secara normal karena debit yang dihasilkan rata-rata sekitar 20 liter perdetik, tambahnya.
