Kota Bengkulu (ANTARA) - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Bengkulu mencatat hingga Juli 2025 ada 1.898 hewan ternak jenis sapi terinfeksi wabah Septicaemia Epizootica (SE) atau sapi ngorok.
"Sampai Juli ini penyakit ngorok terus ada, bahkan jumlahnya mengalami peningkatan secara signifikan," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disnakeswan Provinsi Bengkulu Sri Herlin Despita di Kota Bengkulu, Jumat.
Berdasarkan data yang diperoleh, kata dia, pada triwulan pertama 2025 tercatat 485 kasus dan memasuki triwulan kedua mengalami peningkatan menjadi 1.898 sapi yang terinfeksi penyakit ngorok.
Dari jumlah tersebut, lanjut dia, 485 sapi diantaranya mati akibat penyakit yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu.
Ia mengatakan kasus penyakit sapi ngorok tertinggi berada di Kabupaten Mukomuko (1.311 sapi), kemudian Kabupaten Bengkulu Selatan (303 sapi) , lalu Kabupaten Bengkulu Utara (237 sapi), dan Kabupaten Kaur (47 sapi).
Untuk mengantisipasi lonjakan kasus sapi ngorok di Provinsi Bengkulu, pihaknya mengusulkan penambahan vaksin melalui alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2025.
Sementara itu Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu menyediakan vaksin sebanyak 1.000 dosis yang berasal dari APBD 2025 guna mengantisipasi penyebaran wabah sapi ngorok.
"Untuk 2025 Kota Bengkulu menganggarkan 1.000 dosis vaksin sapi ngorok di Kota Bengkulu," sebut Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bengkulu Henny Kusuma Dewi.
Dengan adanya alokasi vaksin tersebut, kata dia, diharapkan dapat mengantisipasi penyebaran wabah penyakit sapi ngorok di Kota Bengkulu
"Dengan telah dianggarkannya dana untuk pembelian 1.000 dosis vaksin tersebut maka kami akan langsung memberikan vaksin terhadap hewan ternak jenis sapi dan kerbau yang belum terinfeksi wabah sapi ngorok," ujarnya.
