Bengkulu (ANTARA Bengkulu) - Sejumlah sekolah di Pulau Enggano Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, hingga kini kekurangan guru sekolah dasar berstatus pegawai negeri sipil.
"Kondisi ini misalnya ditemukan di salah satu sekolah satu atap SDN 5 di Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano yang hanya memiliki tiga orang guru PNS," kata Kepala Sekolah satu atap Desa Kahyapu Susanto kepada sejumlah wartawan ketika kegiatan ekspos Kependudukan Enggano yang difasilitasi Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu awal Pebruari 2012.
"Tenaga guru di sekolah satu atap ini tercatat 14 orang di antaranya tiga orang berstatus PNS dan 11 dari tenaga sukarela dengan imbalan jasa yang dananya bersumber dari bantuan biaya operasional sekolah (BOS)," katanya.
Ia mengatakan, minimnya tenaga pendidik di daerah itu disebabkan rendahnya minat tenaga guru dari PNS untuk bertugas di pulau terluar berjarak sekitar lebih kurang 100 mil dari Kota Bengkulu ini sehingga tidak aneh jika sejumlah sekolah di daerah ini kekurangan guru.
Enggano memiliki lima sekolah dasar negeri (SDN) yang terletak di desa Apoho, Banjar Sari, Ka'ana, Meok dan Kayaapu.
Hal senada disampaikan Sawaluddin salah seorang guru di SDN 2 Desa Meok Kecamatan Enggano, tenaga guru di sekolah di tempat dia mengajar juga mengalami hal serupa, sehingga tidak aneh jika satu guru mengajar lebih dari dua mata pelajaran.
Namun, kondisi pembangunan pendidikan di daerah itu mengalami peningkatan baik dari gedung sekolah maupun jumlah siswa cukup baik dibanding tahun lalu.
"Saat ini jumlah siswa dalam satu sekolah dasar jauh bertambah hingga mencapai puluhan orang," katanya.
Pulau Enggano adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di samudra Hindia dan berbatasan dengan wilayah India. Pulau dengan satu kecamatan ini merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dengan titik koordinat sebelah barat daya Kota Bengkulu yakni koordinat 05° 23′ 21″ Lintang Selatan dan 102° 24′ 40″ Bujur Timur (BT).
Laporan pertama mengenai pulau ini berdasarkan catatan Cornelis de Houtman yang mengunjungi pulau ini tanggal 5 Juni 1596.[1]. Tidak diketahui dari mana de Houtman mengetahui nama pulau ini, yang dalam bahasa Portugis, engano, berarti "kecewa".
Penduduk asli Pulau Enggano adalah suku Enggano yang terbagi menjadi lima puak asli (penduduk setempat menyebutnya suku). Semuanya berbahasa sama, bahasa Enggano. Suku atau Puak Kauno yang mulai menempati tempat ini pada zaman Belanda (sekitar tahun 1934).
Selain Suku Kauno, terdapat Suku Banten (pendatang), dan empat suku lainnya. Penduduk dari pulau dengan luas 40,2 hektare ini rata-rata hidup dari perkebunan kakao yang hasilnya dijual ke Kota Bengkulu. (adv*I016)
