Sembilan lembar catatan buku harian itu berisi keluhan tentang kondisi kesehatan korban kepada Tuhan serta keluhan kepada seseorang yang diduga kekasihnya, selama menjalani pendidikan.
Selain itu, Kementerian Kesehatan juga menerbitkan sebuah surat dari Direktorat Pelayanan Kesehatan Nomor TK.02.02/D/44137/2024 tentang penghentian sementara Program Studi Anestesi Undip Semarang di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Kariadi Semarang.
Dalam surat tersebut dijelaskan alasan penghentian sementara pembelajaran tersebut berkaitan dengan dugaan perundungan yang memicu bunuh diri salah seorang mahasiswi program studi tersebut.
Penghentian sementara itu dilakukan menyusul adanya investigasi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan atas peristiwa tersebut.
Dalam penyelidikannya, Kementerian Kesehatan juga menggandeng pihak kepolisian.
Namun, Kementerian Kesehatan tidak berencana menutup selamanya PPDS Anestasi Universitas Diponegoro.
Penghentian sementara tersebut agar penyelidikan ini bisa dilakukan dengan cepat, bersih, dan transparan, bebas dari intimidasi.
Baca juga: Undip Semarang bantah mahasiswinya bunuh diri akibat perundungan
Kementerian Kesehatan merasa tidak bisa lepas tangan dari perkara tersebut karena korban juga menempuh pendidikan di lingkungan RSUP Kariadi Semarang yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik Kemenkes.
Atas peristiwa meninggalnya ARL tersebut, Undip Semarang memberikan pernyataan dan klarifikasinya.
Undip membantah bahwa kematian ARL yang diduga bunuh diri itu dipicu oleh perundungan.
Manajer Layanan Terpadu dan Humas Undip Semarang Utami Setyowati menyebut almarhumah memiliki permasalahan kesehatan yang memengaruhi proses belajar yang sedang ditempuhnya.
Bahkan almarhumah disebut sempat mempertimbangkan untuk mengundurkan diri akibat kondisi tersebut, namun mengurungkan niatnya karena secara administratif terikat pada ketentuan penerima beasiswa.
Undip menyatakan siap berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk penanganan lebih lanjut perkara ini.
Fakultas Kedokteran Undip sendiri juga mengklaim telah menetapkan gerakan "Zero Bullying" yang dipantau secara aktif oleh Tim Pencegahan dan Penanganan Perundungan dan Kekerasan Seksual sejak 1 Agustus 2023.
Dugaan perundungan
Berkaitan dengan dugaan perundungan yang dialami korban, polisi menyebut hal itu akan diinvestigasi oleh Kementerian Kesehatan.