Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan sejumlah warga terdampak banjir di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, melakukan pengungsian mandiri ke tempat yang lebih aman pascabanjir dan tetap dalam pendampingan tim petugas gabungan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa warga terdampak mengungsi sementara di rumah warga dan los pasar desa. Sehari sebelumnya, BPBD setempat melaporkan sebanyak 71 kepala keluarga atau 282 jiwa mengungsi dari Desa Tegowa.
"Sementara pendataan dampak masih terus dilakukan," kata dia.
Data sementara yang diterima BNPB melaporkan satu orang meninggal dunia, sedangkan jumlah warga terdampak mencapai 1.286 kepala keluarga atau 5.333 jiwa akibat banjir yang melanda pada Rabu (7/1) itu.
BNPB mengkonfirmasi wilayah terdampak banjir tersebar di 22 desa pada lima kecamatan, yakni Kecamatan Loloda Utara, Galela Utara, Galela Selatan, Galela, dan Kao Barat.
Dari sisi kerusakan, kata Abdul, tercatat sebanyak 1.216 unit rumah terendam, 20 unit rumah rusak berat, satu unit rumah rusak sedang, dan dua unit rumah rusak ringan, serta 11 unit fasilitas umum terdampak.
Kerusakan juga terjadi pada infrastruktur, antara lain jembatan di jalan poros kabupaten antara Desa Posi Posi dan Desa Tate yang terputus, serta bagian oprit jembatan Kali Aru di Desa Dodowo yang mengalami kerusakan.
Selain itu, longsor menutup badan jalan menuju Loloda Utara, sementara akses laut ke wilayah tersebut terganggu akibat cuaca buruk. Jalur darat di sepanjang Loloda Utara juga terendam luapan air sehingga tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.
Abdul menambahkan, BPBD bersama unsur terkait terus melakukan upaya tanggap darurat dan pemutakhiran data, seiring dengan penetapan status tanggap darurat oleh Bupati Halmahera Utara selama 14 hari terhitung 7 - 20 Januari 2026 untuk mendukung optimalisasi penanganan bencana
