Rejang Lebong, Bengkulu (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, menargetkan penurunan angka prevalensi stunting atau gagal tumbuh pada balita hingga di bawah 10 persen atau mencapai angka satu digit pada tahun 2026.
Wakil Bupati Rejang Lebong sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) daerah setempat Hendri Praja di Rejang Lebong, Kamis, menyatakan bahwa optimisme ini didasarkan pada tren penurunan yang konsisten dalam dua tahun terakhir.
"Saat ini angka stunting di Rejang Lebong berada di angka 24,7 persen. Angka ini sudah mengalami penurunan dibandingkan 2024 yang mencapai 28,6 persen. Tahun ini, kita targetkan intervensi maksimal agar bisa turun menjadi satu digit," kata dia.
Dia menjelaskan, upaya-upaya untuk mencapai target tersebut akan diperkuat melalui koordinasi lintas sektor yang lebih intensif, di mana beberapa hari lalu telah berkoordinasi langsung dengan Ketua TPPS Provinsi Bengkulu untuk menyinergikan langkah penanganan pasca-Lebaran Idul Fitri mendatang.
"Setelah Lebaran nanti akan dilakukan rapat kembali untuk penanganan kasus stunting se-Provinsi Bengkulu. Kita berharap akan muncul gagasan-gagasan baru dan inovasi dalam penanganan stunting di masing-masing kabupaten/kota," terangnya.
Menurut dia, selain adanya penurunan angka stunting juga korelasi positif antara perbaikan gizi dengan penurunan angka kemiskinan ekstrem di wilayah itu. Data menunjukkan angka kemiskinan ekstrem di Rejang Lebong yang pada 2024 sebesar 14,65 persen, kini telah turun menjadi 11,71 persen pada tahun 2025.
Dia menegaskan, untuk mencapai target di bawah 10 persen, Pemkab Rejang Lebong akan menempuh berbagai upaya strategis, di antaranya penguatan Posyandu guna memastikan setiap balita terpantau tumbuh kembangnya secara rutin.
Selanjutnya ialah intervensi gizi spesifik, dengan pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK) dan balita gizi buruk.
Penyiapan sanitasi dan air Bersih, dengan memperluas akses infrastruktur dasar sebagai upaya intervensi sensitif. Terakhir ialah melakukan edukasi pranikah, dengan memberikan pemahaman kepada calon pengantin mengenai pentingnya kesiapan kesehatan reproduksi.
"Penurunan stunting bukan hanya tugas sektor kesehatan, tetapi kerja keroyokan seluruh OPD dan masyarakat. Dengan kemiskinan ekstrem yang juga terus turun, kami yakin kualitas kesehatan masyarakat Rejang Lebong akan semakin membaik," demikian Hendri Praja.
