Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FEB Unib, Rina Suthia Hayu, saat mendampingi 144 mahasiswanya berkunjung ke beberapa pelaku usaha kopi, medio tahun 2024, menyebutkan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari mata kuliah manajemen usaha kecil dan praktikum bisnis.
“Kabupaten Rejang Lebong merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Bengkulu. Kami ingin mahasiswa belajar langsung dari pelaku usaha yang telah meraih prestasi,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa diajak mengunjungi kebun di Desa Purwodadi, Kecamatan Bermani Ulu, serta rumah produksi di Kelurahan Air Putih Baru, Kecamatan Curup Selatan.
Pemilik usaha kopi yang pernah membawa kopi Bengkulu meraih prestasi internasional sebagai juara di Festival Kopi Paris, Prancis pada 2019, Haris Gunawan, mengapresiasi kehadiran para mahasiswa dan berharap kunjungan ini memberi nilai edukasi tentang budidaya kopi petik merah dan pengolahan organik.
“Kita beri edukasi bagaimana pengelolaan kopi yang tepat dan benar, agar adik-adik mahasiswa mendapat gambaran nyata di lapangan,” ujarnya.
Dukungan Pemerintah
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Provinsi Bengkulu juga mendukung peningkatan kualitas kopi melalui program Surat Daftar Budidaya (SDB) untuk petani.
Kepala Dinas TPHP Provinsi Bengkulu, M. Rizon, mengatakan bahwa SDB menjadi langkah penting untuk memberikan legalitas produk dan mendorong peningkatan hasil produksi.
“Dengan SDB, kualitas kopi yang dijual dapat terjamin. Kami mulai penerapan program ini di Kabupaten Rejang Lebong dan Lebong,” ujarnya.
Produksi kopi Bengkulu pun mengalami peningkatan signifikan, dari 1,5 ton per hektare menjadi 2 ton per hektare pada 2024. Dinas TPHP juga akan mendistribusikan 800 bibit kopi sebagai bentuk dukungan kepada petani.
Sementara itu, pegiat kopi dan konten kreator Bengkulu, Fitria Ani, menilai bahwa kopi Bengkulu memiliki potensi besar untuk bersaing, baik robusta maupun arabika. Namun dari sisi branding, kopi Bengkulu masih tertinggal dibandingkan daerah seperti Gayo atau Toraja.
“Kita kalah di cerita, kemasan, dan jejaring pasar. Tapi ini bisa dikejar dengan kolaborasi semua pihak,” katanya.
Ia berharap ada dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah untuk memperkuat kualitas pascapanen dan akses pasar. “Kalau semua bergerak bersama, saya yakin kopi Bengkulu bisa sejajar dengan kopi unggulan Indonesia lainnya,” kata dia.
Fitria mengatakan kopi asal Bumi Rafflesia memang belum setenar Gayo atau Toraja. Hal itu ia simpulkan setelah mengamati sejumlah coffeeshop ternama di Jakarta, Yogyakarta dan Bengkulu.
Ia mengatakan ada gejala ketika kopi asal Bengkulu justru dikirim ke provinsi lain dan diklaim dari kawasan tersebut meski hal itu tidak bisa terelakkan. Contohnya, kopi di perbatasan Bengkulu-Lampung dibawa ke provinsi tetangga dan dikemas sebagai Kopi Lampung. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian khusus.
Kopi dari Bengkulu masih menghadapi sejumlah tantangan untuk bisa bersaing di pasar yang lebih luas. Salah satunya adalah keterbatasan akses permodalan bagi pelaku usaha mikro dan petani kopi, yang membuat mereka kesulitan meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas pascapanen.
Selain itu, belum semua petani menerapkan standar budidaya yang konsisten, sehingga mutu kopi kerap tidak seragam. Kurangnya promosi terintegrasi dan minimnya keterlibatan influencer atau duta merek juga membuat kopi Bengkulu kurang dikenal di kalangan penikmat kopi nasional maupun internasional.
Oleh karena itu, sinergi lintas sektor masih sangat dibutuhkan, mulai dari hulu hingga hilir, untuk membawa kopi Bengkulu menjadi primadona baru dalam industri kopi Indonesia.