"Saya resmi pensiun pada 2023, dua tahun lebih awal. Kakak saya dan adek juga bekerja di sini. Sebulan dua kali gajian, gajian besar dan gajian kecil istilahnya. Alhamdulillah cukup untuk biaya hidup," ungkap suami dari Tumi (60) itu.
Cerita lain di sampaikan oleh Kamiyanto (60), warga Desa Sungai Asam Kayu Aro. Bedanya, kedua orangtua nya Amir dan Natun, tiba di Kayu Aro sebagai pekerja di era kemerdekaan tepatnya di tahun 1961.
Kamiyanto merupakan kelahiran Kayu Aro. Ia tau betul kondisi saat itu, sebagai anak tukang kebun. Ia hidup normal seperti anak-anak pekerja perkebunan pada umumnya.
Saat usianya beranjak 20 tahun (1985), Kamiyanto mulai bekerja di perkebunan unit usaha Kayu Aro.
Mulai menjadi juru petik, dilanjutkan sebagai petugas pembersihan hama, pemupukan, hingga menjadi tukang hitung 'kerani' timbang. Sampai akhirnya dipercaya posisi menjadi asisten SDM dan Umum.
Capaian itu bukan kebetulan, semua di dapatkan dengan penuh dedikasi dan semangat, dari sanalah Kamiyanto dapat menyekolahkan putra-putri nya hingga sarjana.
Selama 38 tahun ia mengabdikan diri menjadi pegawai di sana, tepat di tahun 2023 ia pensiun.
Meski telah pensiun, masih saja ada perwakilan kebun yang meminta sumbang saran dan pemikiran untuk kemajuan perusahaan.
"Keberadaan pabrik menghidupi masyarakat,"ujarnya.
Magnet Wisata Kerinci
Pembukaan kebun teh oleh perusahaan swasta Belanda yang beroperasi di Amsterdam yaitu NV. HVA (Namlodse Venotchaaf Handle Veriniging Amsterdam) pada tahun 1920.
Penanaman teh paling pertama dimulai pada tahun 1923. Berselang dua tahun kemudian tepatnya tahun 1925 pabrik mulai beroperasi di lereng Gunung Kerinci. Berada di ketinggian 1.600 hingga 1.700 Mdpl.
Bupati Kerinci Monadi mengatakan keberadaan kebun teh Kayu Aro merupakan warisan perusahaan dagang Belanda (VOC).
Menjadi hamparan terluas di Indonesia dan tertinggi ke dua di dunia setelah Kebun Teh Darjeeling di Himalaya, India (2.000 Mdpl).
Selaku kepala daerah, ia menginginkan perkebunan teh tetap terjaga menjadi bagian dari sumber ekonomi dan pariwisata Kerinci, Provinsi Jambi.
Kebun Kayu Aro memiliki nilai historis yang harus terus dirawat. Di sana, berdiri bangunan tua dan pabrik pengolahan daun teh pertama peninggalan Belanda yang masih terawat dengan baik.
Mulai komplek pabrik hingga sebaran rumah yang pernah menjadi tempat tinggal petinggi di masanya, termasuk perumahan yang didiami oleh pekerja.
Kondisi itu semakin menguatkan, bahwa jejak sejarah masih terawat baik dan berkelanjutan, menjadi bagian dari destinasi wisata iconik Indonesia.
Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh memiliki peninggalan budaya yang kuat.
Disempurnakan dengan bentangan alam dengan hamparan hijaunya teh di lereng Gunung Kerinci yang menyejukkan hati.
Pesona ini potensi yang bisa dimaksimalkan dalam pengembangan kawasan destinasi wisata andalan.
Melalui kombinasi alam, sejarah dan budaya banyak even skala nasional, bahkan internasional bisa digelar.
